Zakat fitrah hukumnya harus untuk tiap-tiap muslim yang memiliki keharusan untuk menafkahi dianya, bila ada lebihnya untuk nafkah dianya serta keluarganya pada hari raya atau saat malam harinya, dengan jumlah satu sha’ makanan pokok, berdasar pada hadits Ibnu Umar –radhiyallahu ‘anhuma- berkata :

“Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wa sallam- sudah mewajibkan zakat fitrah pada bln. Ramadhan untuk tiap-tiap orang satu sha’ kurma, atau gandum, baik untuk orang yang merdeka atau hamba sahaya, lelaki ataupun wanita dari umat Islam”. (HR. Bukhori : 1503 serta Muslim : 948)

An Nawawi –rahimahullah- berkata (6/62) :

“Al Baihaqi berkata : “Para ulama sudah lakukan ijma’ juga akan wajibnya membayar zakat fitrah, demikian pula pernyataan Ibnul Mundzir dalam al Asyraf”.

Dijelaskan dalam Nail Authar (4/218) :

“Adapun mengakhirkan (pembayarannya) sesudah hari raya, Ibnu Ruslan berkata : “Hukumnya haram sesuai sama perjanjian (beberapa ulama) ; karna adalah zakat yang harus, jadi mengakhirkannya bermakna dosa, sama seperti dengan membangun shalat diluar waktunya”.

Diharuskan untuk yang belum juga membayar zakat fitrah (pada satu tahun lebih terlebih dulu), jadi dia harus membayarkan semuanya th. zakat fitrah dengan uang itu dengan dibarengi taubat serta istighfar ; karna zakat fitrah jadi hak beberapa orang fakir serta miskin, jadi tidak dapat gugur terkecuali dengan membayarkannya pada mereka.

Serta semuanya madzhab empat setuju juga akan hal tersebut.

Al Ibadi dari kelompok Hanafiyah berkata :

“Jika mereka mengakhirkannya sesudah hari raya, jadi zakat fitrah itu tidak dapat gugur, mereka tetaplah mesti membayarkannya, walau periode saatnya telah lama sekali waktunya”. (Al Jauharah An Nayyirah : 1/135)

Serta didalam Mawahib al Jalil Syarh Mukhtashar Kholil (2/376) :

“ (Zakat fitrah) itu tidak dapat gugur karna berlalunya waktunya”, dijelaskan dalam Al Mudawwanah : “Jika ada yang mengakhirkannya, jadi dia harus menggantinya untuk satu tahun lebih sebelumnya”.

Dijelaskan dalam Mughni Al Muhataj (2/112) :

“Haram hukumnya mengakhirkan pembayaran hukumnya sesudah hari raya dengan tanpa ada udzur, seperti kehilangan harta atau beberapa orang yang memiliki hak menerimanya, karna tujuannya tidak terwujud, supaya mereka tidak memohon-minta ketika hari bahagia, bila dia mengakhirkan pembayarannya tidak ada udzur apa pun jadi dia sudah bermaksiat serta mesti menggantinya”.

Al Mawardi berkata dalam Al Inshaf

“Kewajiban membayar zakat fitrah tidak dapat gugur sesudah diwajibkannya, karna wafat dunia atau sebab yang lain, seperti yang gw kenali tak ada pebedaan dalam problem ini”.

Ulama Lajnah Daimah lil Ifta’ (9/386) sempat di tanya :

“Bagaimankah hukumnya untuk seorang yang dapat membayar zakat fitrah, tetapi dia tidak ingin membayarnya? ”

Mereka menjawab :

“Diwajibkan untuk siapapun yang belum juga membayar zakat fitrahnya untuk bertaubat pada Alloh –‘Azza wa Jalla- serta beristighfar kepada-Nya ; dia sudah berdosa karna katidakmauannya, dia tetaplah mesti membayarkannya pada mereka yang memiliki hak menerimanya, karna pembayaran sesudah shalat id yaitu jadi shodaqah biasa”.

Wallahu A’lam.